
Virus Corana atau Covid-19 adalah virus
yang menyerang sistem pernapasan yang menyebabkan sesak atau sulitnya bernafas
bagi penderitanya yang bahkan dapat menyebabkan kematian. Akhir-akhir ini,
covid-19 menjadi sebuah topic yang hangat di perbincangkan bukan hanya di
Indonesia melainkan di seluruh belahan dunia. Wuhan, China merupakan tempat
pertama dimana Corona ini di temukan dan menjadi wabah bagi seluruh dunia. Sejak
pertanggal 2 Maret 2020 ditetapkannya kasus pertama positif Covid yang
diumumkan oleh Presiden Joko Widodo dah hingga saat ini telah banyak yang di
nyatakan positif covid-19. Di lansir
dalam Kompas.com dimana pertanggal 29 April 2020, jumlah orang yang terjangklit
virus Corona di Indonesia mencapai 3.220.148 kasus dengan 228.215 kematian dan
juga 1.000.303 pasien sembuh.
Dengan semakin merebaknya virus ini,
maka pemerintah mengambil beberapa kebijakan dalam menyikapi kasus Covid-19
ini, diantaranya adalah Sosial Distancing,
Physical Distancing hingga PSBB. Ini diharapkan
mampu memutus mata rantai penyebaran virus covid-19 ini. Namun untuk lekas
terbebas dari virus ini, hanya akan menjadi angan-angan semata. Mengapa saya
menagatakan demikian? Karena seperti yang diketahui, dengan berbagai kebijakan yang dikeluarkan
oleh pemerintah namun tidak satupun yang membuat masyarakat sadar dan tetap
tidak mengindahkan kebijakan tersebut. Masih saja didapati
masyarakat-masyarakat yang menganggap enteng virus ini dengan tetap berkumpul,
misalnya saja dengan melihat atau menyaksikan balapan liardan tetap
melaksanakan shalat tarwih berjamaah.
Bulan ramadhan seperti ini memang tidak
dapat terlepas dari yang namanya balapan liar, namun dengan pandemic kasus yang
meresahkan berbagai negara di belahan dunia seperti ini saya rasa hal tersebut
sangat keterlaluan. Masyarakat memang cenderung santuy dalam menyikapi covid-19
ini, menganggap dirinya tak akan terjangkit virus ini. Bahkan menyoroti tajam
kebijakan pemerintah mengenai pelarangan shalat berjamaah di mesjid. Sayup-sayup
terdengar ocehan orang-orang yang mengatakan “mengapa harus ada pelarangan
shalat berjamaah di masjid, shalat berjamaah di masjid adala jalan kita untuk
memerangi kasus covid” dan beberapa ocehan lainnya. Beberapa dari mereka
mungkin tidak paham dengan kebijakan yang ada. Kebijakan ini bukan melarang
adanya shalat berjamaah, hanya saja shalatnya kini di alihkan dirumah
masing-masing. Bukan shalatnya yang menjadi masalah hanya saja perkumpulannya
tersebut yang akan membuat penyebaran Covid-19 ini semakin bertambah saja.
Kebijakan mengenai melakukan segala
kegiatan dari rumah saja untuk mencegah ataupun menghambat penyebaran virus
dengan cara menjaga jarak, menggunakan masker dan rajin mencuci tangan serta
tidak berada ditempat-tempat ramai adalah langkah yang sangat tepat. Anjuran
pemerintah untuk meminimalisir kegiatan di luar rumah dengan belajar dirumah
atau pembelajaran daring mulai SD, SMP, SMA/SMK, bahkan hingga kuliah, home
working, serta menganjurkan penyediaan hand sanitizer di setiap sudut ruang public,
penyemprotan disenfekta, dan penutupan tempat-tempat wisata untuk menekan atau
memutus mata rantai penyebaran covid-19 di Indonesia.
Namun permasalahan yang timbul
kemudian, berkenaan dengan anjuran untuk bekerja dari rumah saja membuat
beberapa sector informal merasakan dampak yang begitu luar biasa. Misalnya saja
para pedagang kecil yang harus menutup sementara tempat usaha mereka karena
tidak adanya pengunjung, tukang becak, tukang bentor dan beberapa angkutan umum
yang kini mulai kehilangan mata pencaharian mereka. Dengan demikian, aksi-aksi
solidaritas pun bermunculan. Beberapa influencer, rekan artis dan beberapa masyarakat
umum lainnya gencar membuka donasi untuk aksi-aksi kemanusiaan. Dimana dengan
terkumpulnya hasil donasi tersebut akan dipergunakan untuk membantu masyarakat
dan juga para pejuang garda terdepan yaitu tim medis.
Dilansir dari alinea.id yang
mengatakan bahwa ekspose isu donasi yang di lemparkan bagaikan gayung
bersambut. Dimana donasi alat kesehatan (alkes) berupa alat pelindung diri atau
APD di media massa daring–berdasarkan data tercuplik–mencapai 3.695 artikel.
Disusul bantuan uang 3.151 artikel, selebritas 1.864 artikel, atlet 1.184
artikel, pembuatan masker 1.091 artikel, sumbangan sembako 816 artikel, dan
konser amal 602 artikel. Adanya donasi yang dilakukan oleh masyarakat luas,
sedikit banyak membantu masyarakat menengah kebawah yang begitu merasakan
dampak dari adanya covid-19 ini.
Uluran tangan dari berbagai pihak
ini, membuat masyarakat membandingkan dengan kinerja pemerintah dalam menangani
kasus covid-19 ini. Masyarakat cenderung tidak percaya kepada pemerintahan
dalam menangani kasus yang tergolong sangat besar ini, dikarenakan pemerintah
tidak mampu memberikan arahan yang jelas dan terarah serta terukur demi
keselamatan warga negaranya. Seakan ingin menepis mengenai isu-isu yang ada,
pemeritah memberikan beberapa program bantuan untuk masyarakat dalam menghadapi
pandemic covid-19 ini. Namun program yang kini menjadi buah bibir ditengah
masyarakat adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa. Dimana masyarakat
menganggap pemberian bantuan ini kurang tepat sasaran.
Dilansir dari artikel Humas
Secretariat Cabinet Republic Indonesia, yang mengatakan pemberian bantuan BLT
ini memeiliki beberapa syarat, yaitu keluarga miskin yang bukan termasuk
penerima Program Kerja Harapan (PKH), tidak memperoleh Kartu Sembako dan Kartu
Prakerja. Ketentuan mengenai mekanisme pendapatan pemberian BLT Desa dilakukan
sesuai ketentua Menteri Desa PDTT. Dengan besaran dana 600.000/bulan yang diberikan
selama 3 bulan, yaitu bulan April-Juni 2020. Dengan demikian, denga persyaratan
di tuliskan sebelumnya maka tidak aka nada bantuan yang double, sehingga
pembagian bantuan akan lebih menyeluruh ke masyarakat yang berdampak covid-19.
Refernsi:
https://amp.kompas.com/sains/read/2020/04/30/095200323/update-corona-29-april--3-22-juta-orang-terinfeksi-1.000.303-sembuh.
diakses pada tanggal 30 April 2020, pukul 15.45 wita.
https://www.alinea.id/nasional/solidaritas-publik-di-tengah-pandemi-covid-19-b1ZLl9tcN.
diakses pada pukul 19.54 wita.
https://setkab.go.id/pemerintah-siapkan-blt-desa-untuk-keluarga-miskin-perdesaan-terdampak-covid-19/
diakses pada pukul 22.16 wita
3 Komentar
Mantab sekali.👍
BalasHapusMantap jiwaaaaaa
BalasHapusMantapp kk,Tingkatkan
BalasHapus